Rabu, 13 Agustus 2014

TRADISI MAKEPUNG (BULL RACING)

Kalau kita mendengar kalimat: “Bull-Racing”, mungkin pikiran kita melayang  ke-Pulau Madura, yang terkenal dengan “Karapan Sapi”. Ternyata ada “Buffalo Racing” atau “Balapan Kerbau” yang tidak kalah populernya dikalangan masyarakat Bali, khususnya dibagian Barat, yang dikenal dengan nama “Makepung”.
Tradisi Mekepung adalah sebuah atraksi balapan sepasang kerbau yang ditunggangi oleh seorang joki/ sais, keberadaanya di Bali dan hanya satu-satunya di Kabupaten Jembrana, tradisi budaya ini muncul berawal dari hanya sekedar iseng semata, di mana Kab. Jembrana merupakan wilayah agraris yang mayoritas penduduknya sebagai petani, dalam hal mengerjakan sawah, dimulai dari membajak sawah menggunakan bajak jangkar (bali: tenggala),

Kemudian bongkahan-bongkahan tanah ini diratakan menggunakan bajak lampit, kemudian agar lebih halus menggunakan bajak plasah yang semua kegiatan tersebut ditarik oleh kerbau dan bajak ditunggangi oleh pembajak dan selaku joki atau sais. Setelah menjadi rata dan lumpur halus barulah ditanami padi, yang mana dikerjakan secara gotong royong oleh para petani

Pada saat gotong royong mengerjakan lahan persawahan inilah, mereka ada yang mencoba mengadu kerbaunya dalam menarik bajak, di atas lawan persawahan dan penuh lumpur, lama kelamaan banyak yang mengikuti dan menjadi tontonan menarik, perkembangannya di tahun 1930-an, yang bermula dari Subak Pecelengan Desa MendoyoDangin Tukad, Kec. Mendoyo, Kabupaten Jembrana dan akhirnya diikuti oleh subak-subak lain seperti Subak Temuku Aya Desa Tegalcangkring, tegak Gede, Mertasari dan beberapa subak lainnya, sehingga menjadi agenda rutin atraksi mekepung di sawah.


Kemudian dalam perkembangannya di tahun 1960 mekepung di sawah, dirubah menjadi mekepung di jalanan yang ada dipersawahan. Dan dibagi menjadi 2 kelompok yang akan bertanding dengan batas tengah Sungai Ijo Gading ada blok Timur dan Barat, dan masing-masing regu membawahi 100 pasang kerbau

Para sais yang akan menjadi joki dari kerbau memakai pakaian seperti prajurit, kerbau juga dihias dengan seni, begitu juga tanduknya dan sebuah mahkota yang menghias kepala, diperlakukan dan dihias begitu istimewa, yang ditarik bukan lagi bajak lampit, melainkan pedati kecil yang dihiasi ukiran yang menarik dan indah, lebih artistik, decoratif dan atraktif, dengan lintasan race sepanjang 4 km.

Keunikan dan keindahan yang mempesona dan menantang ini diberi julukan Benhur Jembrana, dan satu-satunya di Bali sehingga Jembrana disebut juga buni mekepung. Perayaan mekepung yang menjadi agenda wisata rutin setiap tahunnya mampu mendongkrak pariwisata di daerah Jembrana.