Jumat, 15 Agustus 2014

PURA GUNUNG KAWI

Pesona Bali sebagai Pulau Dewata memang tidak pernah pudar. Alam yang menyelimuti pulau ini menjadi daya tarik untuk dikunjungi. Pantai yang indah, budaya yang kuat serta keramah tamahan masyarakat Bali mengantarkan pulau ini menjadi salah satu destinasi unggulan dunia.
Tidak hanya pantai dan panorama alam, bangunan berupa candi juga menghiasi pulau ini. Jika kita hanya mengenal candi di dalam bukit berada di India atau China, namun tidak demikian. Di pulau Bali kita juga dapat menemukan hal serupa, yaitu candi di dalam bukit yang bernama Candi Gunung Kawi. Candi ini terdapat  di Kabupaten Gianyar, Jalur menuju Candi Gunung Kawi merupakan jalur yang sama menuju Istana Tampak Siring. Lokasi candi terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Denpasar dengan perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil atau motor. Sementara dari Kota Gianyar berjarak sekitar 21 kilometer atau sekitar setengah jam perjalanan.


Bangunannya terpahat unik diantara bebatuan di tepi bukit nan hijau.
Candi Gunung Kawi tidak dibuat dari susunan batu, melainkan memanfaatkan dinding batu cadas di tepi sungai sebagai media untuk membuat rumah ibadah para penganut Hindu tersebut.
Dinding batu tersebut dipahat dan dibentuk menyerupai dinding-dinding candi. Tak hanya itu, dinding-dinding batu tersebut juga dilengkapi dengan ruangan tempat bermeditasi.

Menurut perkiraan para ahli, candi ini dibuat sekitar abad ke-11 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Udayana hingga pemerintahan Anak Wungsu.
Versi lainnya yang berasal dari cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa pura atau candi Tebing Kawi ini dibuat oleh orang sakti bernama Kebo Iwa. Kebo Iwa merupakan tokoh legenda masyarakat Bali yang dipercaya memiliki tubuh yang sangat besar.
Candi Gunung Kawi memang unik dan mengesankan. Kesan itu setidaknya dimulai sejak anda menuruni 315 anak tangga di tubir Sungai Pakerisan. Suasana asri yang nampak dari rerimbunan pohon di tepi sungai, juga gemericik air dari sungai yang dikeramatkan di Bali ini akan membuat Anda seolah disambut oleh simfoni alam

Sesampainya di kompleks candi, Anda akan menyaksikan dua kelompok percandian yang dipisahkan oleh aliran Sungai Pakerisan. Candi pertama terletak di sebelah barat sungai, menghadap ke timur, yang berjumlah empat buah.
Sedangkan candi kedua terletak di sebelah timur sungai, menghadap ke barat, yang berjumlah lima buah. Pada kompleks candi di sebelah barat, juga dilengkapi kolam pemandian serta pancuran air.

Menyaksikan dua kompleks candi ini, Anda akan dibuat takjub oleh pemandangan dinding-dinding batu cadas yang dipahat rapi membentuk ruang-ruang lengkung yang di dalamnya terdapat sebuah candi. Candi-candi ini sengaja dibuat di dalam cekungan untuk melindungi dari ancaman erosi.
Situs lainnya yang masih satu kompleks dengan Candi Gunung Kawi adalah gapura dan tempat pertapaan yang disebut Geria Pedanda. Di tempat ini Anda dapat menyaksikan beberapa gapura dan tempat pertapaan.
Kompleks Candi Gunung Kawi memang sengaja dibuat untuk persemayaman Raja Udayana dan anak-anaknya. Namun makna persemayaman di sini bukan sebagai kuburan untuk raga sang Raja dan keluarganya, melainkan dalam pengertian simbolis, yakni untuk penghormatan kepada sang raja.

Oleh sebab itu, mengunjungi tempat ini  akan mendapatkan suasana tenang dan damai. Kompleks Candi Gunung Kawi memang merupakan tempat ideal untuk bermeditasi, sembahyang, atau untuk sekedar berwisata.
Jalur menuju Candi Gunung Kawi merupakan jalur yang sama menuju Istana Tampak Siring. Lokasi candi terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Denpasar dengan perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil atau motor. Sementara dari Kota Gianyar berjarak sekitar 21 kilometer atau sekitar setengah jam perjalanan.