Senin, 11 Agustus 2014

KINTAMANI SUNRISE

Tidak salah jika Kintamani yang merupakan kawasan pegunungan sejuk di bagian utara Kabupaten Bangli ini menjadi salah satu tempat wisata Bali yang wajib dikunjungi. Keindahan panoramanya memang luar biasa, selain itu dari sisi ilmu pengetahuan, Kawasan Kintamani yang sudah ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari jaringan Global Geopark, juga sangat istimewa. Kawasan wisata Kintamani ini sejatinya adalah sebuah kaldera raksasa sebuah gunung purba yang di dalam kawahnya sekarang terdapat gunung berapi aktif yang kita kenal sebagai Gunung Batur dan sebuah danau yang kita kenal sebagai Danau Batur.
Biasanya wisatawan menikmati keindahan panorama Kintamani dari kawasan Penelokan di bibir kaldera. Selain berjejer restoran dan fasilitas wisata lain, di tempat ini ada sebuah tempat yang memang disediakan khusus untuk menikmati pemandangan. Sementara itu hanya sebagian kecil saja wisatawan yang turun sampai ke tepi danau. Padahal di tepian danau ada sejumlah tempat yang menarik untuk dikunjungi juga lho, termasuk Desa Trunyan, desa tradisional masyarakat Bali Aga yang terkenal karena tradisinya yang menempatkan jenazah orang yang sudah meninggal di bawah sebuah pohon besar sampai membusuk dan menyisakan tulang belulang.
Jika waktu yang anda miliki untuk berwisata di Bali cukup leluasa, ada baiknya anda meluangkan sebagian waktu yang anda miliki untuk mendaki ke puncak Gunung Batur. Jangan kaget dulu, pendakian ke puncak Gunung Batur berbeda dengan pendakian kebanyakan gunung lain yang memerlukan fisik yang prima, peralatan lengkap, dan keterampilan khusus. Siapapun yang memiliki kondisi fisik rata-rata bisa melakukannya. Rutenya tidak terlalu berat, sementara untuk mendaki mencapai puncak juga tidak perlu waktu terlalu lama, hanya sekitar 2 sampai 3 jam saja. Mereka yang memiliki fisik yang prima dan terbiasa mendaki gunung bahkan bisa menempuhnya dalam waktu 1 sampai 1.5 jam.


Yang paling praktis adalah mengikuti paket aktivitas wisata mendaki Gunung Batur yang disediakan sejumlah operator wisata yang dapat dibooking secara online atau melalui hotel tempat anda menginap. Biasanya paketnya sudah termasuk antar-jemput, tiket, bahkan pemandu pendakian. Tetapi anda juga bisa datang sendiri ke kawasan pintu pendakian yang terletak di dekat Pura Bukit Jati di kaki Gunung Batur. Disana biasanya ada banyak pemandu pendakian yang menawarkan jasa. Anda hanya perlu membayar jasa pemandu plus tiket masuk ke kawasan Gunung Batur. Jasa pemandu biasanya ditetapkan berdasarkan negosiasi, sementara tiket masuk harganya Rp. 10.000. Banyak wisatawan muda yang cukup nekat naik sendiri tanpa bantuan pemandu.
Saat terbaik untuk mendaki adalah dini hari untuk mengejar panorama sunrise di puncak. Supaya tidak ketinggalan sunrise, biasanya pendakian dimulai sekitar jam 3 dini hari. Dari pusat-pusat konsentrasi wisatawan seperti Kuta, Denpasar, Sanur, dan sekitarnya, perlu waktu sekitar 2 jam untuk mencapai kaki Gunung Batur, jadi anda harus berangkat selepas tengah malam.

Karena suasana masih sangat gelap dan kita mendaki hanya mengandalkan lampu senter, biasanya perjalanan mendaki relatif cepat. Jika anda memulai pendakian pada pukul 3 dini hari, biasanya masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum fajar menyingsing. Anda bisa menghangatkan diri dulu dengan minuman atau makanan yang anda bawa. Jika anda tidak menbawa bekal, di puncak ada juga warung sederhana yang menjajakan kopi panas dan mie instan rebus yang bisa dipesan dengan telor dan nasi putih. Jangan kaget dengan harganya, bayangkan saja pedagangnya harus mengangkut sampai ke puncak gunung.
Saat matahari mulai menyingsing itulah semua keajaiban alam terhampar di depan mata dan semua kelelahan yang mendera dari sejak anda dipaksa bangun tengah malam, berkendara berjam-jam, dan berjalan mendaki di pagi buta, terbayar lunas. Saat matahari semakin meninggi kita juga bisa melihat hamparan dataran rendah di kawasan timur Bali termasuk Gunung Agung yang menjulang di kejauhan. Bahkan jika cuaca cerah, kita juga bisa melihat bayangan Gunung Rinjani di cakrawala, padahal gunung itu berada di Pulau Lombok yang terpisah selat yang cukup lebar. Menyeberangi Selat Lombok dengan ferry memakan waktu antara 4.5 sampai 6 jam tergantung kondisi cuaca.

Nah perjalanan turun, meskipun mestinya lebih ringan, tidak selalu lebih singkat. Karena sudah terang kita bisa melihat bahwa medan yang dilalui ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Jadilah kita lebih hati-hati melangkah sambil berandai-andai bagaimana kita bisa menempuhnya dengan selamat dalam keadaan gelap gulita dan setengah tertidur. Selain itu karena pemandangan sepanjang jalan tidak kalah indah, kita juga akan terus tergoda untuk berfoto-foto, entah mengabadikan keindahan alam ataupun sekedar narsis.