Jumat, 08 Agustus 2014

TARI TOPENG BALI

Tari Topeng seperti namanya dalam setiap pementasannya menggunakan penutup wajah. Tarian ini biasanya ditarikan oleh beberapa orang atau bisa hanya satu orang saja,  ceritanya diambil dari kisah klasik ataupun cerita-cerita babad kuno, seperti dalam cerita panji maupun ramayana, tergolong warisan seni yang sudah sangat tua, bahkan dari jaman prasejarah. 
Di Indonesia sendiri kesenian ini berkembang dalam beragam bentuk di beberapa daerah seperti topeng Bali, Dayak, Reog, Malang, Cirebon dan Ireng. Bahkan masyarakat duniapun memiliki seni penutup wajah, terekspresi dalam bentuk wujud serta watak berbeda-beda. Tentu di berbagai tempat tersebut memiliki ciri khas berbeda-beda dalam seni penampilannya, semuanya terkesan unik, tampil menarik.
Di Bali sendiri berkembang menjadi bagian dari upacara adat atau keagamaan, topeng tersebut diyakini memiliki keterkaitan dengan roh-roh leluhur, menjadikannya interpretasi para dewa, diyakini juga penutup wajah tersebut di dalam pementasannya memiliki kekuatan magis terutama saat dipentaskan pada perayaan-perayaan upacara besar. 

Salah satu jenis tari sakral adalah Topeng Pajegandipentaskan oleh satu orang saja menggunakan beberapa jenis penutup wajah dengan karakter berbeda-beda, dimana tokoh topeng utamanaya adalah Sidhakarya. mengisahkan perjalanan Sidhakarya menemui raja. Pementasaannya hanya pada saat upacara keagamaan. Penari-penari yang memerankan tarian tersebut tidak pernah mematok biaya sewa, hanya berdasarkan keiklasan penyelengara upara.
Untuk jenis tari yang sifatnya menghibur dipentaskanan oleh 2-5 orang penari, biasanya disebut topeng Wali seperti jauk, topeng tua, arja monyer, topeng manis, keras serta penasar.