Minggu, 10 Agustus 2014

MONKEY FOREST UBUD

Bali memang memiliki beberapa hutan kera. Selain Monkey Forest di Ubud, ada juga Alas Kedaton di utara Kota Tabanan dan Sangeh di utaranya Kota Denpasar. Selain itu ada juga sejumlah hutan yang dikenal dihuni banyak kera, misalnya Hutan Wanagiri di utaranya Bedugul, bukit di timur Candidasa, atau hutan di seputaran Pura Uluwatu yang terkenal nakal dan usil. Meskipun demikian Monkey Forest Ubud yang memiliki nama resmi Mandala Wisata Wenara Wana atau Sacred Monkey Forest Sanctuary ini memang yang paling banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun asing.
Apakah monyet-monyet penghuni Monkey Forest Ubud sejenis dengan monyet-monyet di tempat lain di Bali? Entahlah, soalnya buat saya semua monyet keliatannya sama saja. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan monyet di Sangeh atau Pura Uluwatu yang usil bahkan suka mencuri, monyet-monyet di Monkey Forest Ubud ini cenderung tidak mengganggu. Pengunjung bisa bermain dan memberi mereka makanan seperti pisang dan kacang tanpa perlu merasa takut. Oh iya, kalo mau memberi mereka makanan, jangan lupa membeli pisang atau kacang di pelataran parkir sebelum masuk, karena di dalam sama sekali tidak ada pedagang.

Monkey Forest Ubud ternyata bukan hanya sekedar kawasan konservasi dimana monyet-monyet dan hutan yang menjadi habitatnya sengaja dilestarikan. Bagi kalangan Umat Hindu khususnya yang bermukim di Desa Padang Tegal dimana kawasan ini berada, hutan ini juga disucikan. Di dalam kawasan hutan ini terdapat 3 tempat suci berupa pura yang konon dibangun pada abad ke-11, pada masa kekuasaan Dinasti Pejeng dan Dinasti Gelgel.
Pura pertama dan terbesar adalah Pura Dalem Agung. Bangunan suci dengan arsitektur klasik Bali yang memiliki banyak ukiran indah ini benar-benar menakjubkan. Kebanyakan pengunjung menghabiskan waktu cukup lama untuk mengamati setiap bagian dan setiap detailnya.Untuk masuk ke pura ini kita harus memakai kain yang diikat selendang. Kalau tidak membawa sendiri, disediakan pinjaman. Tapi kalau pengunjung sedang banyak, kita mungkin harus bersabar menunggu giliran meminjam kain.
Pura kedua adalah Pura Tirta yang terletak di tepi sungai. Untuk mencapai pura ini kita harus melewati jembatan dengan ukiran kepala naga yang melintas diantara akar pohon raksasa. Ini salah satu tempat foto-foto favorit 

di kawasan Monkey Forest Ubud. Memasuki kawasan pura terdapat kolam suci yang sangat jernih dan dihuni ikan-ikan besar. Seperti pura-pura lain di Bali, pura ini juga terdiri dari tiga bagian, utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Uniknya, ketiga bagian ini posisinya tidak berurutan meskipun tetap berbeda ketinggiannya. Jangan lupa berjalan sedikit di sepanjang jalan setapak di tepi sungai menuju bagian Nista Mandala, suasananya masih sangat alami dan air sungainya sangat jernih.


Pura ketiga yang berada di ujung timur kawasan hutan adalah Pura Prajapati yang berhubungan dengan kematian, atau peleburan jasad manusia saat dia meninggal untuk kembali ke alam baka melalui ritual kremasi. Disini juga terdapat lahan pemakaman. Dalam tatanan Agama Hindu, jasad manusia yang meninggal bisa langsung dikremasi atau dikuburkan terlebih dahulu untuk menunggu kremasi. Seperti kita semua tahu, kremasi dalam ritual Umat Hindu di Bali bukan hanya sekedar membakar.

Nah jika kebanyakan hutan wisata di Bali berada di kawasan hutan yang jauh dari keramaian, tidak demikian halnya dengan Monkey Forest Ubud. Di depan kawasan hutan sudah merupakan kawasan wisata yang padat dengan berbagai fasilitas seperti jejeran toko cindera mata dan karya seni, hotel, restoran dan lain-lain. Kalau anda menginap di kawasan Ubud, anda bahkan mungkin cukup berjalan kaki atau bersepeda saja untuk mencapai Monkey Forest ini.

Sudah pernah ke tempat wisata yang satu ini? Kalau belum, jangan lupa jadwalkan perjalanan ke Ubud pada liburan anda berikutnya. Atau sekalian saja fokuskan seluruh liburan ke kawasan ini, termasuk memilih penginapan di kawasan Ubud. Ada banyak pilihan koq, dari bed and breakfast bertarif murah sampai resort dan villa mewah. Dari Monkey Forest, kita bisa melanjutkan penjelajahan ke Pasar Ubud, Puri Ubud, lalu beberapa tempat wisata lain yang masih berada di seputaran Ubud seperti Tegallalang, Pura Goa Gajah, dan lain-lain. Penggemar karya seni berkantong tebal akan dimanjakan dengan gallery-gallery seni papan atas. Yang kantongnya tipis, di sepanjang jalan-jalan dan gang-gang juga terdapat banyak gallery kecil-kecilan.

Yang terakhir, jangan lupa, petualangan kuliner di kawasan Ubud ini juga luar biasa lho. Yang khas dan tidak terlalu menguras isi kantong misalnya Nasi Ayam Kadewatan. Mereka yang Non-Muslim, Babi Guling Ibu Oka merupakan salah satu referensi. Ayam dan bebek betutu khas Gianyar, cikal bakalnya datang dari kawasan Ubud ini. Lalu ada juga sejumlah restoran yang namanya sudah sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara seperti Bebek Bengil, Warung Nuris, Bebek Tepi Sawah, dan masih banyak lagi.